Showing posts with label Suriah. Show all posts
Showing posts with label Suriah. Show all posts

Tuesday, September 17, 2013

AS: Perang Sipil Suriah Sulit Berakhir Jika Assad Masih Berkuasa

Bashar al-Assad
Bashar al-Assad

BERITA TERKINI, WASHINGTON -- Presiden AS Barack Obama menyatakan Suriah membutuhkan transisi politik. Lebih tepatnya, Presiden Suriah Bashar al Assad perlu menyerahkan kekuasaan untuk meningkatkan kontrol dunia internasional atas senjata kimia milik Suriah.

Obama seperti dikutip dari Reuters, Rabu (18/9), mengatakan kepada jaringan televisi Telemundo sulit membayangkan perang sipil Suriah bisa berakhirnya. Khususnya jika fakta di lapangan menyatakan Assad masih berkuasa di Suriah.

Obama mengkritik perjanjian antara Rusia dan AS yang berusaha mengamankan senjata kimia milik Suriah. Karena menurut Obama, perjanjian sama sekali tak menghukum Assad.

Bagi Obama, tujuan utama dia masih tetaplah sama, yaitu transisi politik untuk menurunkan Assad dari kekuasaannya. Langkah ini perlu untuk menjaga kaum minoritas dan meyakinkan kaum ekstrimis tak semakin kuat di negeri itu. Perang Suriah yang telah berjalan selama dua setengah tahun menyebabkan 100 ribu orang tewas.

Namun, ia menjelaskan saat ini AS akan mengambil langkah jangka pendek. Langkah itu adalah meyakinkan bahwa senjata kimia milik pemerintah Suriah bisa dijaga ketat.

Langkah selanjutnya adalah menghubungkan seluruh kelompok, faksi dan partai yang terlibat dalam krisis Suriah. Serta negara yang mendukung Suriah seperti Rusia dan mengatakan kita harus menghentikan semua ini.

Tim investigasi PBB, Senin (16/9) kemarin mengumumkan bahwa senjata yang digunakan untuk membunuh ratusan nyawa di pinggiran Damaskus 21 Agustus lalu adalah gas sarin. Senjata ini tergolong dalam senjata kimia.

Perjanjian antara Menteri Luar Negeri John Kerry dan Menlu Rusia, Sergei Lavrov dikritik banyak pihak. Karena tak memiliki mekanisme kuat untuk membuat Suriah benar-benar menyerahkan senjata kimia itu.

Sumber: Republika Online

FSA Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur Suriah

A Syrian Air Force fighter jet launches missiles at El Edaa district in Syria's northwestern city of Aleppo September 1, 2012.
A Syrian Air Force fighter jet launches missiles at El Edaa district in Syria's northwestern city of Aleppo September 1, 2012.

BERITA TERKINI, ISTANBUL -- Tentara Pembebasan Suriah (FSA) mengklaim menembak jatuh sebuah pesawat perang MiG di wilayah Dama, Idlib, Suriah.

Koordinator Pers FSA Luey Mikdad pada Senin waktu setempat yang mengumumkan klaim itu mengatakan dua pilot pesawat tempur Jet MIG-21 yang ditembak jatuh berhasil menyelamatkan diri dengan melompat keluar lalu menggunakan parasut.

"Kita memulai operasi pencarian di daerah itu untuk mencari reruntuhan pesawat tersebut," kata Mikdad kepada AA pada Senin (16/9) waktu setempat.

Komite Koordinasi Lokal Suriah (LCC) seperti dilaporkan kantor berita Turki, Anadolu, juga mengklaim bahwa satu pesawat tempur yang membom daerah-daerah pemukiman juga berhasil dijatuhkan.

Turki tembak jatuh helikopter Suriah

Pada Senin, Wakil Perdana Menteri Turki Bulent Arinc mengatakan jet tempur negaranya telah menembak jatuh sebuah helikopter Suriah di perbatasan Turki pada pukul 14.25 waktu setempat.

Berbicara dalam jumpa pers setelah rapat Dewan Menteri dipimpin oleh Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan di ibu kota Turki Ankara, Arinc mengatakan, helikopter PI 17 pada pukul 14.20 waktu setempat Senin melakukan pelanggaran perbatasan dua kilometer ke arah Yayaladagi, wilayah Provinsi Hatay Guvecci di sepanjang perbatasan bersama Suriah.

"Meskipun telah diperingatkan terus-menerus oleh unsur-unsur pertahanan udara, dan berkali-kali, pelanggaran terus berlangsung dan pesawat kami yang lepas landas dari bandara Malatya menghantam helikopter itu dengan rudal yang kemudian jatuh di wilayah Suriah," kata Arinc.

"Sampai sekarang, kami belum menerima informasi apapun mengenai awak pesawat itu, yang jatuh di sisi Suriah."

Mengingatkan bahwa pengawasan udara Turki dilakukan selama 24 jam, Arinc mencatat bahwa peraturan keterlibatan Turki telah berubah dan praktek baru dilaksanakan setelah (Suriah) terus menyerang dan mengganggu sampai ke dalam daerah terutama Akcakale dan Viransehir.

Arinc menyatakan bahwa Bashar dan para pendukungnya masih memegang senjata konvensional, sehingga mereka akan terus membunuh orang. Dia mengatakan, sekitar 120.000 orang telah tewas di Suriah menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang belum dibantah oleh pemerintahan Suriah.

Sumber: Republika Online

Monday, September 16, 2013

Pesawat Tempur Turki Tembak Jatuh Helikopter Suriah

Penembakan roket/ilustrasi
Penembakan roket/ilustrasi

BERITA TERKINI, YAYLADAGI---Turki menyatakan pesawat tempurnya telah menembak jatuh sebuah helikopter milik Suriah pada Senin karena melintasi wilayah udara mereka. Pernyataan itu diikuti dengan peringatan bahwa pemerintah Turki akan mengambil langkah yang diperlukan guna mempertahankan diri atas pelanggaran lebih jauh lagi.

Turki mengerahkan dua jet tempur F-16 ke wilayah provinsi Hatay yang dekat dengan perbatasan Suriah setelah mendapati sebuah helikopter Mi-17 mendekati wilayah udara Turki sesaat menjelang pukul 14.30 waktu setempat (18.30 WIB), kata militer Turki dalam pernyataan.

Wakil Perdana Menteri Turki, Bulent Arinc, mengatakan jet tempur mereka melepas tembakan setelah helikopter asing itu menjelajahi wilayah udara di dekat kota perbatasan Yayladagi sejauh 2 kilometer. "Sebelumnya kami telah memberi peringatakan berkali-kali," kata Arinc.

Rekaman video amatir menunjukkan helikopter itu berubah menjadi bola api raksasa ketika jatuh di wilayah Suriah. "Turki tidak akan membiarkan segala bentuk pelanggaran perbatasan wilayah ... Kami akan mempertahankan keamanan perbatasan dan rakyat kami,"kata Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu, kepada wartawan di Paris.

"Lain kali tidak akan ada yang berani melanggar perbatasan Turki," kata Davutoglu setelah pertemuan dengan Menlu AS John Kerry, Menlu Inggris William Hague dan Menlu Prancis Laurent Fabius, guna membahas masalah Suriah.

Sumber: Republika Online

Ali Haidar: Kemenangan Suriah Berkat Upaya Diplomasi Rusia

Amerika Serikat dan Rusia
Amerika Serikat dan Rusia

BERITA TERKINI, MOSKOW -- Menteri Rekonsiliasi Nasional Suriah, Ali Haidar mengatakan kesepakatan Amerika Serikat dan Rusia yang bertujuan untuk memusnahkan senjata-senjata kimia Suriah dan mencegah perang sebagai suatu "kemenangan" bagi negaranya.

Haidar pun secara tegas mengucapkan terima kasih atas upaya Rusia dalam memprakarsai kesepakatan tersebut.

"Perjanjian ini adalah hasil dari diplomasi Rusia dan para pemimpin Rusia. Ini adalah kemenangan bagi Suriah yang dicapai berkat sahabat kami Rusia," kata Haidar dalam satu wawancara dengan kantor berita Rusia RIA Novosti.

Pernyataan Haidar merupakan tanggapan pertama pemerintah Suriah terkait kesepakatan antara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov yang dicapai di Jenewa, Sabtu.

Kesepakatan itu menetapkan Suriah memiliki waktu seminggu untuk mengajukan satu daftar persediaan senjata-senjata kimianya dan menyerahkannya untuk dihancurkan pada pertengahan tahun 2014.

"Pada satu pihak kesepakatan itu membantu Suriah terhindar dari krisis dan pada pihak lain mencegah perang terhadap Suriah," kata Haidar.

Seperti dilaporkan AFP,  kedua pihak sepakat bahwa Dewan Keamanan PBB, di mana Rusia memiliki hak veto bagi setiap prakarsa akan melakukan tindakan yang tidak ditentukan jika Suriah melanggar ketentuan-ketentuan konvensi internasional yang melarang senjata-senjata kimia. Obama mengatakan bahwa jika pemerintah Bashar tidak melaksanakan kesepakatan itu," AS tetap siap untuk bertindak."

Sebelum kesepakatan itu dicapai, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengancam akan melakukan serangan militer untuk menghukum Bashar atas tuduhan melakukan serangan senjata kimia yang menewaskan ratusan orang di pinggiran Damaskus 21 Agustus.

Bashar membantah bertanggung jawab atas serangan senjata kimia itu. Ia mengatakan pasukan oposisilah yang melancarkan serangan menggunakan senjata kimia yang dipasok dari luar negeri dan AS menggunakannya sebagai dalih bagi intervensi militer. 

Sumber: Republika Online

Monday, September 9, 2013

Saham Eropa Anjlok Akibat Krisis Suriah

Pasar Saham Eropa
Pasar Saham Eropa

BERITA TERKINI,JAKARTA--Saham-saham Eropa melemah pada Senin meskipun terjadi kenaikan di seluruh Asia, karena sentimen terpukul oleh kekhawatiran baru atas Suriah dan kemungkinan penarikan stimulus Federal Reserve AS, kata para dealer.

Indeks acuan FTSE 100 di London berakhir turun 0,25 persen menjadi 6.530,74 poin. Indeks DAX 30 di Frankfurt hampir tidak berubah pada 8.276,32 poin dan indeks CAC 40 di Paris turun 0,22 persen menjadi 4.040,33 poin.

Mata uang tunggal Eropa naik menjadi 1,3211 dolar dari 1,3180 dolar pada Jumat sore. Dolar naik menjadi 99,37 yen dari 99,07 yen. Di London Bullion Market, harga emas menguat menjadi 1.390,00 dolar AS per ounce dari 1.387 dolar AS.

"Harapan awal positif untuk pasar Eropa setelah data ekonomi kuat dari China dan Jepang baru-baru ini, kalah oleh isu Suriah, karena pasar mencerna komentar akhir pekan dari Presiden Assad bahwa Suriah dan sekutunya akan menyerang balik jika diserang," kata

Michael Hewson, analis pasar senior di CMC Markets Inggris. "Sementara kekhawatiran ini akan membatasi setiap prospek kenaikan kuat dan mempertahankan pasar Eropa berjalan di belakang untuk sebagian besar hari, kemungkinan sebuah serangan AS masih terlihat lemah pada tahap ini," katanya.

Pasar juga terhambat oleh berlanjutnya kekhawatiran bahwa Federal Reserve AS bisa segera memutuskan menarik atau mengurangi kebijakan stimulus besarnya yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif.

Angka pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat lalu, menyuarakan keprihatinan tentang ekonomi nomor satu dunia itu, tetapi juga memicu harapan bahwa Fed akan menunda mengurangi program stimulusnya untuk sementara waktu.

Sementara itu, sentimen tetap bingung oleh kekhawatiran intervensi di Suriah.

Sumber: Republika Online

AS Ajukan Syarat Ke Presiden Suriah, Jika Tak Ingin di Serang

John Kerry (dua kanan)
John Kerry (dua kanan)

BERITA TERKINI, LONDON---Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mengatakan, jika Presiden Suriah Bashar al-Assad ingin menghindari serangan terkait penggunaan senjata kimia, ia harus menyerahkan semua senjata kimianya sebelum akhir pekan.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov hari Senin mengumumkan bahwa Moskow akan mendorong sekutunya, Suriah, untuk menyerahkan senjata kimianya ke bawah pengawasan internasional, lalu melucutinya segera untuk menghindari serangan Amerika.

John Kerry  secara menggebu-gebu menyampaikan pandangannya mengenai tindakan militer terhadap pemerintah Suriah yang mengatakan ada bukti kuat Suriah bertanggung jawab atas serangan senjata kimia bulan lalu. Kerry mengatakan tidak dilakukannya tindakan terhadap Suriah  bisa mengirim “pesan yang keliru” kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad dan musuh-musuh Amerika di Timur Tengah.

Menlu Kerry mengatakan Amerika punya bukti “kuat” bahwa pemerintah Suriah memerintahkan serangan dengan senjata kimia itu. "Kami punya bukti pejabat tinggi rezim  didapati memberi instruksi  serangan ini, dan terlibat di dalamnya serta terlibat dalam persiapan serangan yang dilaporkan langsung pada Presiden Assad," ujar Kerry seperti dilansir situs VOA.

John Kerry menolak sangkalan dan ancaman pembalasan dari Presiden Assad yang disampaikan dalam wawancara dengan jaringan televisi CBS News, dengan mengatakan Assad tidak mempunyai kredibilitas. Menteri Luar Negeri Kerry memperingatkan dampak serius di Suriah dan di luar Suriah jika masyarakat internasional tidak menanggapi serangan senjata kimia itu. Kerry mengatakan Suriah bisa menghindari serangan dengan menyerahkan semua senjata kimianya kepada masyarakat Internasional dan mengijinkan pemeriksaan,  tapi ia tidak memperkirakan hal itu akan terjadi.

Sumber: Republika Online

Sesaat Sebelum Serang Suriah, AS Lapor Israel Dulu

Jasad korban serangan senjata kimia di Ghouta, Suriah, Rabu (21/8).
Jasad korban serangan senjata kimia di Ghouta, Suriah, Rabu (21/8).

BERITA TERKINI, TEL AVIV -- Otoritas Israel mengatakan Amerika Serikat akan memberitahu Israel beberapa jam sebelum menyerang Suriah. Israel berencana menempatkan sistem anti-rudal dan pasukannya jika Presiden Barack Obama memberi lampu hijau menyerang Suriah.

Presiden AS, Barack Obama, saat ini tengah mennghadapi penolakan dalam negeri untuk mengintervensi Suriah. Obama meminta Kongres menyetujui serangan terhadap pemerintah Presiden Suriah Bashar Al Assad dalam menanggapi serangan senjata kimia pada 21 Agustus yang diklaim menewaskan lebih dari 1.400 warga Suriah.

Sementara itu, ratusan aktivis pro-Israel berencana melobi Kongres untuk aksi militer ke Suriah. Dalam laporan Al Arabiya edisi Ahad (8/9), pada pertemuan mingguan kabinet Israel, perdana menteri Benjamin Netanyahu tidak membuat referensi langsung terkait Suriah.

Namun, para pejabat Israel secara pribadi menyuarakan keprihatinan jika AS gagal menyerang Suriah maka Iran akan lebih berani mengembangkan senjata nuklirnya.

Iran merupakan sekutu Suriah yang dikhawatirkan mengembangkan senjata nuklir. Pemerintah Iran mengklaim program nuklirnya untuk tujuan damai.

Sumber: Republika Online

Serang Suriah, AS Ngemis Dukungan Negara Arab

Menlu AS John Kerry bersama istri tampak sedang makan malam dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang juga ditemani istri. Diperkirakan, foto diambil pada 2009
Menlu AS John Kerry bersama istri tampak sedang makan malam dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang juga ditemani istri. Diperkirakan, foto diambil pada 2009

BERITA TERKINI, WASHINGTON -- Menteri Luar Negeri AS, John Kerry mencari dukungan Liga Arab untuk menyerang Suriah.

Kerry mengklaim, menteri Liga Arab sepakat pemerintahan Bashar Al-Assad yang menggunakan senjata kimia telah melewati garis merah global.

"Kami semua setuju...bahwa penggunaan senjata kimia Assad...melintasi garis merah global internasional," ujar Kerry dikutip Al-Jazeera, Senin (9/9). 

Kerry mengatakan, jumlah negara Arab yang menandatangani kesepakatan mencapai 12 negara. "Hari ini kami mendiskusikan kemungkinan dan tindakan yang harus diambil," ujarnya.

Dikatakan Kerry, Arab Saudi yang berpartisipasi dalam pembicaraan bersama otoritas Liga Arab serta delapan negara Arab lainnya merupakan negara-negara yang ikut tanda-tangan. "Mereka mendukung serangan dan mendukung untuk mengambil tindakan," ujar Kerry.

Namun, dalam konferensi itu menteri luar negeri Qatar menekankan perlunya solusi politik dalam perang Suriah, bukan militer. Kerry juga mengatakan AS mempertimbangkan masukan dari Prancis untuk kemungkinan membawa isu Suriah ke Dewan Keamanan PBB setelah ada laporan dari penyelidik PBB.  

Sumber: Republika Online

Wednesday, September 4, 2013

PBNU: OKI Harus Akhiri Politik 'Adu Domba' Barat

Tentara Amerika di Afghanistan
Tentara Amerika di Afghanistan

BERITA TERKINI, JAKARTA -- Anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) diminta mengambinl inisiatif mengakhiri politik adu domba dan pemecahbelahan negara-negara Muslim oleh Barat.

Permintaan itu disampaikan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Slamet Effendy Yusuf, menyusul rencana Amerika Serikat menyerang Suriah. Slamet mengatakan serangan AS akan menimbulkan tragedi kemanusiaan yang lebih hebat.

Kelak, kata Slamet, ketika 'serangan terbatas' selesai dan AS serta sekutunya meninggalkan kawasan tersebut, mereka akan meninggalkan sebuah negara bangsa yang porak poranda secara fisik, serta perang saudara yang sulit dihentikan.

"Kita lihat Irak sekarang. Dengan senang hati AS menarik militernya dari Irak karena tanpa mereka perangi bangsa Irak sudah aktif saling menghancurkan dan membunuh," ujar Slamet seraya meminta serangan AS ke Suriah harus dicegah.

Mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor itu mengajak umat manusia yang cinta damai mencegah tragedi kemanusiaan ini. "Harus ada penolakan secara masif masyarakat dunia terhadap kesewenang-wenangan negara adikuasa ini. AS tidak punya kewenangan untuk penyerbuan itu sekalipun Kongres AS mengizinkan," katanya. 

Sumber: Republika Online

Menlu Rusia: Invasi Suriah Picu Bencana Nuklir

 Tentara Suriah berjalan di antara bangunan yang hancur akibat perang saudara yang melanda negara tersebut.
Tentara Suriah berjalan di antara bangunan yang hancur akibat perang saudara yang melanda negara tersebut.

BERITA TERKINI, MOSKOW --  Kementerian Luar Negeri Rusia Rabu mendesak Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk menganalisis risiko potensial operasi militer Amerika Serikat di Suriah, dan mengatakan serangan seperti itu akan mengancam keamanan nuklir di seluruh Timur Tengah.

Juru bicara Kementerian Alexander Lukashevich mengatakan dalam satu pernyataan, bahwa operasi semacam itu di Suriah "dapat mempengaruhi target sensitif dalam hal keamanan nuklir dan non-proliferasi nuklir," termasuk Miniature Neutron Source Reactor (MNSR) dekat Damaskus.

Dia mengatakan, "konsekuensi akan menjadi bencana" jika MNSR tersebut yang terkena sasaran peluru kendali AS.

Potensi risiko ini berbuntut "kemungkinan kontaminasi di wilayah terdekat dengan uranium yang diperkaya dan produk peluruhan radioaktif serta de-facto adanya ketidakmungkinan untuk memastikan kontrol dan keamanan bahan nuklir di objek ini," katanya.

"Untuk mencegah peristiwa dari giliran situasi negatif ini, kami sangat mendesak sekretariat IAEA untuk segera bereaksi terhadap situasi dan untuk memberikan kepada negara-negara anggota analisis risiko yang berkaitan dengan serangan udara pada MNSR dan benda-benda lainnya di Suriah," kata pernyataan itu.

Sumber: Republika Online

Vladimir Putin Sebut John Kerry Sebagai Pembohong

John Kerry
John Kerry

BERITA TERKINI, MOSKOW -- Presiden Rusia, Vladimir Putin menyebut Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry sebagai seorang pembohong.

Pernyataan itu dilontarkan Putin menyusul tuduhan AS yang menyebut Pemerintah Suriah Presiden Bashar al-Assad dituduh menggunakan senjata kimia untuk menyerang warga sipil dalam beberapa kali serangan dan keterlibatan pasukan opisisi Al-Qaidah.

Putin menyatakan, Al Qaidah yang sudah lama menjadi target Negeri Paman Sam itu terbukti ikut berperang melawan Pemerintah Presiden Bashar Al-Assad. Menurut Putin, tudingan Kerry mengada-ada.

"Ini sangat tidak mengenakkan dan terus terang saya terkejut. Ketika saya berbincang dengan dia (Kerry), saya menghargainya sebagai orang yang terhormat. Namun dia itu berbohong. Herannya, dia tahu sedang berbohong. Ini tentu sangat menyedihkan," ujar Putin, seperti dikutip Associated Press, Kamis (5/9). 

Sumber: Republika Online

Sunday, September 1, 2013

Konflik Suriah Akan Jadi Perang Rusia vs Amerika

Amerika Serikat dan Rusia
Amerika Serikat dan Rusia

BERITA TERKINI, Penggunaan senjata kimia dalam perang sipil di Suriah menyisakan dua kubu besar di kalangan internasional. Kubu pertama, yakni mereka yang ingin menyerang Suriah dan kelompok kedua, yang menentang invasi. Kubu pertama dipimpin oleh Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris. Hanya, kongres Inggris menolak keinginan Perdana Menteri Inggris David Cameron untuk terlibat dalam penyerangan.  Sejumlah negara Teluk, seperti Arab Saudi dan Qatar, diketahui telah sejak lama memasok senjata buat oposisi.

Kubu kedua, yakni kelompok negara yang menentang serangan tersebut. Rusia merupakan negara yang berdiri paling depan dalam barisan ini, selain Cina dan Iran. Bagi Rusia, Suriah merupakan pertaruhan gengsinya dengan AS. Berbeda dengan Iran yang memiliki kedekatan secara aliran dengan Presiden Bashar al-Assad (sama-sama Syiah), Rusia memiliki hubungan bisnis dan historis yang cukup panjang dengan rezim Assad.

Hubungan Rusia (dulu Uni Soviet) telah berlangsung selama beberapa dekade, bahkan sejak ayah Bashar al-Assad, Hafez al-Assad, berkuasa. Pada 1972, Hafez al-Assad telah menandatangani perjanjian pakta pertahanan keamanan dengan Rusia. Selama era itu, Moskow mengirimkan senjata senilai 135 juta dolar AS ke Damaskus. Pada 1980, Assad dan Presiden Uni Soviet Leonid Brezhnev bahkan menandatangani pakta kerja sama lanjutan selama 20 tahun terakhir.

Pemimpin Soviet terakhir, Mikhail Gorbachev, pada 1987 pernah mengatakan menjamin akan terus melanjutkan bantuan ekonomi dan militernya untuk Suriah. Janji ini terus dipegang hingga Hafez al-Assad digantikan oleh Bashar al-Assad. Di sisi lain, partai politik di Suriah dikuasai oleh Partai Bath yang dikategorikan masuk dalam kelompok sayap kiri. Kedekatan pandangan atau ideologi politik dengan Uni Soviet ini merekatkan keduanya. Selain dengan Suriah, Uni Soviet juga dekat dengan rezim Irak Saddam Husein yang telah diluluhlantakkan oleh AS dan sekutu.

Karena itu, jika Assad berhasil digulingkan dan Suriah berhasil ditaklukkan Barat dan sekutunya, ini bisa menjadi tamparan besar buat Presiden Rusia Vladimir Putin. Padahal, Putin telah berjanji akan mengembalikan masa kejayaan Rusia setelah sebelumnya, Negeri Beruang Merah itu bergelut dalam persoalan ekonomi.

Washington Post menulis ada empat alasan mengapa Rusia ingin melindungi Assad. Pertama, Rusia memiliki pangkalan di Suriah yang cukup strategis. Pangkalan ini merupakan markas militer terakhir Rusia di luar negara-negara Uni Soviet. Kedua, Rusia masih memiliki jiwa mental perang dingin. Dia ingin tetap mempertahankan aliansi militer terakhirnya. Ketiga, Rusia membenci ide intervensi Barat seperti yang dilakukan terhadap Suriah. Keempat, Suriah telah membeli perlengkapan militer cukup besar dari Rusia. Sejak abad 20, Rusia mungkin telah menjual lebih dari 1,5 miliar dolar AS senjata ke Suriah. Belakangan, Rusia dikabarkan telah menjual pesawat tempur MiG-29 dan s-300 ke Suriah.

Dalam tanggapan terakhirnya soal rencana serangan Barat ke Suriah, Putin meminta AS dan sekutunya agar membuktikan terlebih dahulu apakah Assad benar menggunakan senjata kimia ataukah tidak. Dia juga menilai ini hanya provokasi dari negara-negara tertentu. Rusia merupakan salah satu negara tetap Dewan Keamanan (DK) PBB. Rusia bersama Cina berulang kali mengeblok keinginan Barat yang ingin menjatuhkan Assad melalui resolusinya. Kecurigaan Putin bahwa senjata kimia itu merupakan propaganda kelompok tertentu dapat dimaklumi. Karena, memang saat insiden serangan senjata kimia itu berlangsung, masih memiliki posisi cukup kuat dan tidak dalam keadaan terdesak.

Media Iran, Press TV dalam salah satu artikelnya mengatakan, senjata kimia berasal dari intelijen Arab Saudi. Laporan ini memang tidak sepenuhnya bisa diterima. Namun, konflik di Suriah bisa menguntungkan Arab Saudi, baik secara ekonomi maupun politik. Secara ekonomi, mereka bisa mendapatkan keuntungan dari naiknya harga minyak sedangkan dari politik, jika Assad jatuh, mereka akan menambah satu sekutu baru di negara Arab.

Kini, bola terakhir ada di tangan AS dan Rusia. Jika AS menyerang dan Rusia membalas dengan memberikan bantuan ke tentara Assad, ini bisa menjadi babak baru perang di Timur Tengah. Perang ini bisa melibatkan Iran, Hezbullah Lebanon, yang mendukung Assad melawan kelompok Suni Arab yang didukung Barat. 

Sumber: Republika Online

Parlemen Iran: AS Serang Suriah Untuk Amankan Israel

Bendera Iran  (ilustrasi)
Bendera Iran (ilustrasi)

BERITA TERKINI, TEHERAN---Menteri Luar Negeri Iran Muhammad Javad Zarif menyatakan kesedihan atas kemungkinan serangan militer terhadap Suriah yang diajukan oleh negara-negara Barat dan beberapa negara-negara regional.

"Saya sedih mendengar bahwa beberapa tetangga kami telah menyerukan solusi militer terhadap Suriah. Ini menunjukkan bahwa mereka kurang pemahaman yang tepat tentang situasi regional," kata Zarif.

Dia lebih jauh menyoroti permusuhan beberapa negara regional dan Israel dengan Suriah dan mengatakan, "Mereka mengambil keuntungan dari apa yang terjadi di Suriah dan memperkuatnya untuk mendukung rezim Zionis atau bahan bakar bagi perbedaan sektarian."

Ketua Parlemen Iran Ali Larijani juga memperingatkan kemungkinan serangan terhadap Suriah, dan mengatakan bahwa Barat harus merawat Israel atas kasus melancarkan perang terhadap Suriah.

Pada Sabtu, Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel menyatakan bahwa Gedung Putih sedang mempelajari opsi militer terhadap Suriah. Hagel menyarankan Pentagon mengirimkan pasukan ke tempat terdepan atas kemungkinan aksi militer terhadap Suriah, bahkan pada saat Presiden AS Barack Obama menyuarakan kehati-hatiannya.

 Sumber: Republika Online

Friday, August 30, 2013

Prancis-AS Tegaskan Kerja Sama Serang Suriah

Presiden Prancis, Francois Hollande (kiri) dan Presiden AS, Barack Obama.
Presiden Prancis, Francois Hollande (kiri) dan Presiden AS, Barack Obama.

BERITA TERKINI, PARIS-- Presiden Prancis Francois Holland pada hari Jumat menegaskan keinginannya untuk melancarkan aksi militer bersama-sama dengan Amerika Serikat terhadap pemerintahan Suriah. Pernyataan itu menjadikan Paris sekutu utama Washington dalam krisis Suriah setelah Inggris menarik diri dari rencana operasi.

Dalam pembicaraan selama 45 menit melalui sambungan telepon dengan Presiden AS Barack Obama, Hollande mengatakan Prancis masih memiliki tekad untuk menghukum rezim Suriah. Paris merasa yakin bahwa rezim tersebut telah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri pada pekan lalu, demikian menurut ajudan presiden Prancis.

Obama dan Hollande "sama-sama yakin bahwa serangan itu merupakan serangan kimia dan bahwa tidak dapat dipungkiri rezim (Suriah) adalah pihak yang bertanggung jawab," kata ajudan tersebut.

"Hollande mengulang tekad Prancis untuk tidak membiarkan kejahatan-kejahatan itu lolos dari hukuman dan beliau (Hollande) merasakan tekad yang sama di pihak Obama."

Sebelumnya Inggris mundur dari rencana penyerangan terhadap Suriah --setelah parlemen melakukan pemungutan suara pada hari Kamis, yang hasilnya menentang keinginan pemerintah Inggris. Amerika Serikat dan Prancis pun menjelma menjadi sebuah tim memimpin intervensi  militer dalam perang Suriah yang sudah berjalan selama 29 bulan itu.

Bersatunya Prancis dan AS dalam sebuah tim merupakan hal yang jarang terjadi dalam tahun-tahun terakhir ini. Situasi saat ini sangat jauh berbeda dengan keadaan pada satu dekade sebelumnya, yaitu ketika hubungan Prancis dan Amerika Serikat menyentuh titik paling buruk karena perbedaan sikap menyangkut Irak.

Hubungan di titik rendah itu juga dikarenakan penentangan presiden Prancis saat itu, Jacques Chirac, terhadap serangan AS ke pemerintahan Saddam Hussein. Demikian dalam kebencian itu hingga kentang goreng yang dinamai 'French fries' diganti menjadi 'freedom fries' di beberapa restoran Amerika, termasuk yang berada di gedung DPR AS.

Kebalikan dari situasi yang dramatis pada saat itu, Hollande mencoba mendukung upaya Washington untuk membentuk koalisi internasional bagi kemungkinan penyerangan terhadap Suriah. "Prancis menginginkan tindakan yang tegas dan sebanding terhadap rezim Damaskus," katanya dalam wawancara dengan surat kabar Le Monde yang dipublikasikan hari Sabtu.

Dalam pidato yang disampaikannya menyangkut operasi militer di Suriah, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry pada hari Jumat memuji Prancis sebagai "sekutu terlama" Washington namun tidak menyebut Inggris.

Jika koalisi Prancis-AS benar-benar terbentuk, Paris berada dalam posisi untuk membantu koalisi dengan mengerahkan peluru-peluru kendali yang diluncurkan dari pesawat-pesawat jet tempur serta kapal selam.

Sumber: Republika Online

50 Persen Warga AS Menentang Invasi Suriah

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama

BERITA TERKINI, WASHINGTON -- Setengah dari warga Amerika Serikat percaya Presiden Barack Obama seharusnya tidak ikut campur secara ketentaraan di Suriah dalam menanggapi dugaan penggunaan senjata kimia oleh penguasanya, kata jajak pendapat disiarkan pada Jumat.

Masyarakat tampak terpecah pada masalah apakah menggunakan kekuatan tentara untuk langsung menghukum Presiden Suriah Bashar Assad yang menggunakan gas beracun pada rakyatnya, sehingga menewaskan ratusan warga Suriah pada pekan lalu.

Menurut hasil jajak pendapat, hanya 42 persen warga AS mendukung Obama melancarkan serangan terhadap Suriah sebagai tanggapan. 50 persen warga menentang dan delapan persen tidak yakin.

Saat ditanya lebih khusus apakah mereka mendukung tanggapan terbatas pada serangan udara menggunakan peluru kendali jelajah ditembakkan dari kapal Angkatan Laut AS untuk menghancurkan sarana tentara, yang digunakan untuk melakukan serangan kimia, petanggap lebih mendukung.

Limapuluh persen mendukung gerakan itu, sementara 44 persen menentang, kata NBC. Sejumlah besar, 58 persen, menyatakan menyetujui penggunaan bahan kimia senjata oleh negara mana pun melanggar "garis merah", yang memerlukan tanggapan hakiki Amerika Serikat, termasuk kemungkinan serangan.

Tapi, hampir delapan dari 10 petanggap mengatakan presiden harus diminta mendapatkan persetujuan Kongres sebelum ikut campur. Jajak pendapat atas 700 orang itu, dengan tingkat kesalahan 3,7 persen, dilakukan pada Rabu dan Kamis saat presiden menimbang pilihan untuk menanggapi Assad.

Regu keamanan negara Obama menjelaskan kepada duapuluhan anggota Kongres melalui telepon pada Kamis tentang rencana yang dipertimbangkan bila ia memutuskan campur tangan tentara.

Pemerintahan Obama secara taat asas menyatakan penggunaan senjata kimia oleh Bashar merupakan ancaman bagi kepentingan Amerika Serikat.

Namun, hanya 21 persen petanggap jajak pendapat itu mengatakan memikirkan tindakan terhadap pemerintah Suriah adalah kepentingan negara Amerika Serikat.

Jajak pendapat NBC itu juga menunjukkan tingkat penerimaan keseluruhan pekerjaan Obama merosot satu titik sejak Juli, menjadi 44 persen. Persetujuan atas penanganan kemelut Suriah hanya 35 persen.

Sumber: Republika Online

Thursday, August 29, 2013

Kapal Perusak Kelima AS "USS Stout" Menuju Suriah

Kapal Perang AS bernama USS Nimitz
Kapal Perang AS bernama USS Nimitz

BERITA TERKINI, WASHINGTON --  Angkatan Laut Amerika Serikat mengirim kapal perusak kelima ke Meditrenia timur, kata seorang pejabat pertahanan kepada kantor berita Prancis AFP, Kamis (29/8), saat dugaan meningkat tentang serangan segera terhadap Suriah.

Kapal perusak berpeluru kendali USS Stout, berada "di Meditrenia, sedang menuju ke arah timur" menggantikan kapal perusak Mahan, kata pejabat itu dan menambahkan kedua kapal itu mungkin akan tetap berada di lokasi tersebut untuk sementara.

Kapal-kapal perusak lainnya di kawasan itu-- Ramage, Barry dan Gravely-- mondar-mandir di Meditrenia dan dapat meluncurkan peluru-peluru kendali Tomahawk mereka ke arah Suriah jika diperintahkan oleh Presiden AS Barack Obama.

Pejabat pertahanan itu, yang berbicara tanpa bersedia namanya disebutkan, tidak mengatakan berapa lama Mahan akan berada di daerah itu sebelum kembali ke pelabuhan pangkalannya di Norfolk, Virginia, yang ditinggalkannya sejak Desember 2012.

Tiga kapal perusak biasanya meronda Meditrenia di bawah wewenang Armada ke-VI AS yang terutaa mereran pertahanan antirudal. Angkatan Laut AS merahasiakan jumlah rudal Tomahawk yang dimiliki masing-masing kapal itu tetapi diperkirakan sekitar 45.

Menteri Pertahanan Chuck Hagel sudah mengatakan pasukan AS siap melancarkan serangan, tetapi Obama mengatakan ia belum membuat satu keputusan mengenai hal itu.

Pejabat pertahanan AS itu juga mengindikasikan bahwa kapal induk USS Nimitz dan kapal-kapal pengawalnya tetap berada di daerah Armada ke-V AS, yang membentang dari Laut Merah sampai ke Teluk dan Laut Arab.

Pejabat itu menambahkan bahwa walaupun Nimitz tetap berada di perairan itu, "itu tidak ada hubungannya dengan opsi-opsi serangan terhadap Suriah saat ini."

Sumber: Republika Online

Wednesday, August 28, 2013

PM Suriah: Penyerang Menggali Kuburan Sendiri di Suriah

PM Suriah Wael al-Halqi
PM Suriah Wael al-Halqi

BERITA TERKINI, DAMASKUS --  Perdana Menteri Suriah Wael al-Halqi pada Rabu (28/8) waktu setempat, mengatakan, Suriah akan menjadi "kuburan para penyerang" jika tentara negara asing melakukan campur tangan. 

Ia juga menuduh Barat mencari-cara alasan untuk melancarkan serangan, lapor AFP.  Suriah akan memberi kejutan kepada para penyerang, seperti yang terjadi pada perang Yom Kippur 1973, yaitu ketika pasukan Arab membuat Israel lengah, dan menjadi "kuburan para penyerang", katanya. 

"Ancaman kekuatan Barat penjajah tidak membuat kita takut, karena rakyat Suriah memiliki tekad, yaitu tidak akan tinggal diam jika dihina," kata Halqi seperti dikutip stasiun televisi pemerintah. 

Wakil Menteri Luar Negeri Faisal Muqdad, sementara itu, mengatakan Barat telah mendorong para pemberontak anti-pemerintah untuk menggunakan gas beracun. Di saat yang sama menyalahkan pemerintah sebagai alasan untuk melancarkan tindakan campur tangan Barat. 

"Kelompok teroris menggunakan gas sarin di sejumlah daerah di negara ini dengan mendapat dorongan dari Amerika, Inggris dan Prancis," katanya kepada para wartawan. 

"Dorongan negara Barat ini harus dihentikan karena dengan membela para teroris ini. Kelompok-kelompok ini akan segera mengarahkan persenjataan kimia terhadap rakyat Eropa,"lanjutnya.

Mugqdad mengeluarkan pernyataan itu setelah melakukan pertemuan dengan utusan PBB urusan perlucutan senjata, Angela Kane. Angela merupakan ketua tim pemeriksa senjata PBB yang telah berada di Suriah sejak 18 Agustus.

Sumber: Republika Online

Presiden Venezuela: Tujuan Amerika Menghancurkan Bangsa Arab

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro

BERITA TERKINI, KARAKAS -- Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Rabu (28/8), menyampaikan penolakannya terhadap campur tangan yang mungkin dilakukan di Suriah oleh Amerika Serikat dan negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Negara NATO dan AS telah mempersenjatai kelompok oposisi di Suriah untuk mempersiapkan campur tangan dan kendali atas negara Arab tersebut, kata Maduro melalui Twitter sebagaimana dilaporkan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. 
 
"Cukup sudah perang penaklukan imperial terhadap bangsa-bangsa di dunia. Kapitalisme selalu memaksakan perang untuk mengatasi krisisnya sendiri," kata Maduro. 
 
Ia menyatakan keinginan AS ialah menghancurkan bangsa Arab dan merusak kestabilan di wilayah tersebut. 
 
Pernyataan Maduro dikeluarkan setelah Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel, Selasa (27/8) mengatakan pasukan AS siap melancarkan serangan terhadap Suriah dan mereka cuma menunggu Presiden Barack Obama mensahkan serangan itu.
 
Sumber: Republika Online

Tuesday, August 27, 2013

Berikut Langkah Obama Sebelum Serang Suriah,

Barack Obama
Barack Obama

BERITA TERKINI, WASHINGTON, DC---Juru bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan Presiden Obama sedang berkonsultasi dengan para pemimpin DPR dan Senat, tetapi tidak mengatakan apakah Presiden Obama sedang mengupayakan wewenang dari Kongres bagi kemungkinan serangan militer.

Beberapa anggota Kongres dari faksi Republik dan Demokrat menunjukkan keprihatinan bahwa Presiden Barack Obama mungkin akan memerintahkan tindakan militer terhadap terhadap Suriah tanpa meminta persetujuan Kongres. Mantan Ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR Ileana Ros-Lehtinen – yang juga wakil faksi Republik dari negara bagian Florida mengatakan.

“Saya kira penting bagi Presiden Obama untuk datang ke Kongres, meminta wewenang untuk melakukan serangan terhadap Suriah – meskipun belum jelas apakah wewenang itu akan diberikan atau tidak, dan kemudian bertindak sesuai keinginan Kongres Amerika. Ini yang dilakukan Presiden Bush dalam beberapa perang sebelumnya,” kata Ros-Lehtinen seperti dilansir VOA.

Tetapi anggota Kongres ini ragu hal tersebut akan terjadi. Ros-Lehtinen menambahkan, “Saya yakin serangan misil terhadap pasukan Bashar Al-Assad akan segera terjadi, dan saya rasa yang akan dilakukan Presiden Obama adalah memberitahu kami – bahwa dalam 20 menit serangan akan dimulai”.

Anggota Kongres dari faksi Demokrat Barbara Lee dari negara bagian California mengatakan tidak ada solusi militer bagi krisis di Suriah dan ia menyerukan kepada Kongres Amerika untuk melangsungkan perdebatan sebelum tindakan militer apapun diambil.

Menjawab desakan untuk meminta otorisasi Kongres, juru bicara Gedung Putih Jay Carney hari Selasa menunjukkan keyakinan presiden bahwa konsultasi dengan para pemimpin Kongres saja sudah cukup. “Kita sedang terlibat pada apa yang kita yakini sebagai tanggungjawab kita, yaitu berkonsultasi dengan Kongres. Proses itu sedang berlangsung,” ujar Carney.

Sumber: Republika Online

Menhan AS: Militer Amerika Bersiap Serang Suriah

Menteri Pertahanan Chuck Hagel
Menteri Pertahanan Chuck Hagel

BERITA TERKINI, Menteri Pertahanan Chuck Hagel mengatakan militer Amerika siap bertindak jika Presiden Barack Obama memerintahkan pembalasan terhadap rezim Suriah yang diduga menggunakan senjata kimia.

Hagel mengatakan kepada BBC hari Selasa bahwa militer Amerika telah “menempatkan aset-asetnya” dan akan mampu memenuhi serta menuruti opsi apapun yang ingin diambil Obama.

Kantor berita Associated Press menyatakan Amerika diperkirakan akan mengumumkan kepastian yang lebih resmi mengenai penggunaan senjata kimia di Suriah. Pemerintah Suriah telah membantah melakukan serangan semacam itu dan menuding pemberontak bertanggung jawab atas serangan pekan lalu yang menewaskan ratusan orang seperti dilansir situs VOA.

Berbagai berita menyebutkan bahwa Amerika dan beberapa negara Barat sedang mempertimbangkan tanggapan terbatas atas dugaan penggunaan senjata kimia oleh Damaskus, untuk menghukum Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Sumber: Republika Online