Showing posts with label Mesir. Show all posts
Showing posts with label Mesir. Show all posts

Saturday, October 5, 2013

Anti Kudeta Seru Pendukung Mursi Berkumpul di Tahrir Square

Demonstran Ikhwanul Muslimin menggelar aksi demonstrasi menentang penggulingan Presiden Muhammad Mursi di halaman Masjid Rabaa Al Adawiya, Kairo, Mesir.
Demonstran Ikhwanul Muslimin menggelar aksi demonstrasi menentang penggulingan Presiden Muhammad Mursi di halaman Masjid Rabaa Al Adawiya, Kairo, Mesir.

BERITA TERKINI, KAIRO -- Pendukung presiden Mesir yang digulingkan militer, Muhammad Mursi meminta demonstrasi pada Ahad (6/10) waktu setempat untuk memperingati 40 tahun perang Arab-Israel pada 1973. Permintaan itu diberikan satu hari pasca demonstrasi mematikan yang menewaskan empat orang.

Aliansi anti-kudeta meminta pendukungnya berkumpul di Tahrir Square Ahad ini untuk memperingati 40 tahun perang. Tahrir Square telah diblokir militer. Konflik itu dikenal sebagai perang Oktober di dunia Arab dan perang Yom Kippur di Israel.

Peristiwa itu diingat dengan bangga oleh tentara Mesir karena melemahkan pertahanan Israel dan akhirnya  dapat memulihkan kondisi Semenanjung Sinai melalui perjanjian perdamaian 1979.
Dalam laporan Aljazirah, demonstrasi pada Jumat lalu yang menewaskan empat orang dapat menggambarkan bagaimana pasukan keamanan akan mencegah demonstrasi pada Ahad ini. Pihak berwenang Mesir mengeluarkan peringatakan kepada siapapun untuk mempertimbangkan demonstrasi tersebut.

"Kementrian dalam negeri menegaskan tekadnya untuk menghadapi kekerasan dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pendukung Ikhwanul Muslimin," ujar pernyataan itu.
Militer meningkatkan pengawasannya di sekitar Tahrir Square setelah bentrokan pada Jumat lalu. Namun, aliansi Anti-Kudeta yang terdiri dari pendukung Mursi tetap meminta pendukungnya turun ke jalan

Friday, October 4, 2013

Mesir Kembali Memanas, 4 Orang Tewas

Konvoi tentara tiba di dekat Lapangan Tahrir, Kairo saat terjadi bentrok
Konvoi tentara tiba di dekat Lapangan Tahrir, Kairo saat terjadi bentrok

BERITA TERKINI, KAIRO---Empat orang tewas di Kairo, Jumat, ketika pendukung Presiden terguling Mesir Mohamed Morsi bentrok dengan penentang mereka dan pasukan keamanan, kata seorang pejabat medis kepada AFP. 

Khaled al-Khatib, kepala pelayanan darurat Mesir, mengatakan, 40 orang juga cedera dalam bentrokan itu, yang meletus setelah sholat Jumat di ibu kota Mesir tersebut dan daerah-daerah lain di negara itu. "Empat orang tewas di Kairo. Korban tewas tidak mencakup polisi atau aparat keamanan," kata Khatib tanpa menyebutkan penyebab kematian mereka.

Kairo dilanda bentrokan-bentrokan sengit yang umumnya terjadi di sekitar Lapangan Tahrir, pusat pemberontakan 2011 yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak. Polisi menembakkan peluru amunisi ke udara dan gas air mata untuk mencegah kelompok oposisi memasuki lapangan itu, ketika ratusan pendukung Morsi meneriakkan "Allahu Akbar", kata wartawan AFP.

Militan meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan setelah militer menggulingkan Presiden Mesir Mohamed Morsi pada 3 Juli. Penumpasan militan yang dilakukan kemudian di Mesir menewaskan ratusan orang dan lebih dari 2.000 ditangkap di berbagai penjuru negara itu.

Kekacauan meluas sejak penggulingan Presiden Hosni Mubarak dalam pemberontakan rakyat 2011 dan militan meningkatkan serangan-serangan terhadap pasukan keamanan, terutama di Sinai di perbatasan dengan Israel.

Sumber: Republika Online

Sunday, September 8, 2013

Penyusunan Konstitusi Mesir, Aktifis Telanjang Akan Ambil Bagian


BERITA TERKINI, Alia al- Mahdi , aktivis Telanjang Mesir , telah mendesak presiden boneka kudeta Mesir untuk mengikutsertakan perwakilan bagi mereka yang tidak beragama apapun dalam komite konstitusi setelah penggulingan Presiden Mohammad Mursi tanggal 3 Juli 2013.

Alia Al Mahdi adalah salah satu nama penandatangan dalam surat elektronik yang dikirim kepada Adly Mansour yang meminta lebih banyak hal dan kebebasan beragama , website Elaph melaporkan Sabtu .

" Kami adalah orang Mesir yang tidak beragama , kami meninggalkan Kristen dan Islam , dan kami ingin terwakili dalam konstitusi baru dengan beberapa pejabat untuk mewakili kita di komite yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan konstitusi , untuk mendapatkan hak-hak kami sebagai orang Mesir , " tulisnya .

Pada akhir 2012 , Alia al Mahdi menyebabkan kegemparan di Mesir setelah bertelanjang terhadap rancangan konstitusi syariah negara itu ketika dia lakukan aksi protes bersama Femen , gerakan perempuan (nudis) internasional di Stockholm .

Saat itu Mursi , seorang anggota sayap politik Ikhwanul Muslimin , Partai Kebebasan dan Keadilan , dikritik karena memimpin pembuatan konstitusi yang pro – Islam .

Dalam demonstrasi protes di Stockholm , Alia al Mahdi menjadi dikenal , ia muncul sambil memegang bendera Mesir dengan tulisan di tubuhnya yang berbunyi : " . Syariah adalah bukan konstitusi ".

Setelah jatuhnya Mursi dan tekanan terhadap Ikhwanul Muslimin , banyak minoritas di Mesir meminta untuk terlibat dalam perumusan konstitusi baru .

Elaph mengutip sumber mengatakan Adly Mansour akan mengakomodasi tuntutan tersebut atas tuntutan kaum minoritas tersebut di negeri ini . (Arby/Dz)

Source: http://muslimina.blogspot.com

Monday, September 2, 2013

Ikhwanul Muslimin Di Ujung Tanduk

Anggota Senior Ikhwanul Muslimin (ilustrasi)
Anggota Senior Ikhwanul Muslimin (ilustrasi)

BERITA TERKINI, KAIRO -- Sebuah panel pengadilan Mesir menyarankan pengadilan setempat membubarkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi non-pemerintah (LSM) yang terdaftar secara hukum.

Kasus yang didaftarkan pada Senin (2/9) oleh oposisi Ikwanul ingin mencabut izin LSM. Pengadilan akan melanjutkan kasus tersebut pada 12 November mendatang.

Ikhwanul Muslimin resmi mendaftarkan diri sebagai LSM untuk menanggapi gugatan yang berpendapat mereka tidak memiliki status hukum. Dalam laporan Al-Jazeera, Senin, Ikhwanul didirikan pada 1928 dan secara resmi dibubarkan penguasa militer Mesir pada 1954.

Rekomendasi panel tersebut tidak mengikat pengadilan. Ikhwanul telah aktif selama puluhan tahun sebagai organisasi tidak resmi sampai Husni Mubarak digulingkan pada 2011.

Gerakan ini kemudian memenangkan serangkaian pemilihan yang puncaknya pada pemilihan presiden tahun lalu. Sementara itu, militer kemudian menggulingkan pemerintahan Mursi yang didukung Ikhwanul Muslimin pada 3 Juli lalu. sejak itu, sebagain besar pemimpin Ikhwanul Muslimin ditangkap dan menghadapi tuduhan menghasut kekerasan.

Sumber: Republika Online

Thursday, August 22, 2013

PM Gaza: Penyeberangan Gaza Akan Dibuka Mesir Sabtu ini

Penyeberangan Gaza
Penyeberangan Gaza

BERITA TERKINI, GAZA CITY, WILAYAH PALESTINA -- Mesir berencana akan membuka kembali penyeberangan perbatasan Rafah, kata seorang pejabat Hamas, Kamis (22/8), sepekan setelah Kairo menutup satu-satunya lintas darat Jalur Gaza yang tidak melewati Israel.

"Rafah akan dibuka kembali Sabtu ini selama empat jam sehari, untuk kasus kemanusiaan dan warga Palestina dengan kebangsaan asing," kata Maher Abu Sabha, direktur jenderal perbatasan bagi pemerintah Hamas, dalam sebuah pernyataan.

Mesir telah menutup "tanpa batas" Rafah dari yang kantung pesisir yang diperintah Hamas pada 15 Agustus, karena alasan keamanan di balik gerakan sehari setelah kekerasan mematikan secara nasional. Penutupan tersebut telah menyebabkan ratusan warga Palestina terdampar di kedua sisi.

Hamas mengatakan, keputusan Mesir dilakukan setelah adsa tekanan dari Perdana Menteri Gaza Ismail Haniya dan kementerian luar negeri pemerintahannya.

Pada Sabtu, Mesir telah membuka kembali Rafah untuk memungkinkan ke wilayahnya satu bus bermuatan penuh warga Palestina dengan paspor internasional dan orang-orang yang membutuhkan perawatan medis.

Hamas bersekutu dengan Ikhwanul Muslimin Presiden Mesir terguling Muhammad Mursi.

Sumber: Republika Online

Israel: Kelumpuhan Militer Mesir Target Utama Kudeta

Militer Mesir
Militer Mesir

BERITA TERKINI, JERUSALEM -- Beberapa jenderal Israel mengungkapkan sejumlah fakta terkait kudeta militer Mesir. Mereka menegaskan Israel memiliki peran dalam kudeta militer yang dipimpin oleh panglima Abdul Fattah Al Sisi.

''Para jenderal menegaskan bahwa Israel ingin melumpuhkan militer Mesir untuk jangka panjang,'' sebut laporan PIP mengutip situs Isu Central Israeli pada Kamis (22/8).

Laporan itu dikutip dari hasil wawancara wartawan radio militer Israel, Razi Berkani, yang mengundang sejumlah jenderal veteran negara itu sebagai narasumber. Berkani mengundang mantan panglima angkatan udara Israel, Raven Bethatsor; mantan panglima militer Israel, Dani Haltus; dan mantan ketua peneliti di badan intelejen militer, Amos Galboa.

Jenderal-jenderal Israel ini sepakat bahwa langkah paling penting dalam kudeta Mesir bukan melengserkan Muhammad Mursi dan menjatuhkan pemerintah Ikhwanul Muslimin. ''Tetapi, target paling penting adalah mendorong militer Mesir untuk semakin lumpuh,'' sebut laporan tersebut.

Melumpuhkan militer Mesir menjadi setrategi terpenting bagi Israel. Sebab, Israel menilai militer mesir masih memiliki kekuatan dan perlu diwaspadai.

''Israel tidak pernah memperkirakan terjadinya hasil seperti ini di Mesir. Israel tidak pernah memperkirakan militer Mesir akan merebut kekuasaan politik dengan cara seperti ini,'' kata Bethadsor.

''Dengan berkuasanya militer ke pucuk pimpinan politik, maka hal ini akan mengubah perimbangan kekuatan antara Israel dengan Arab di masa mendatang dalam jangka panjang,'' katanya.

Sementara, Amos menegaskan Amerika Serikat harus memanfaatkan pengaruhnya terhadap elit militer Mesir dan meyakinkan mereka untuk melakukan peran seperti halnya peran militer di Turki sebelum era Recep Tayyip Erdogan.

Amerika harus menjamin militer mencegah pihak-pihak kelompok ekstrim menguasai pemerintahan di Kairo. ''Israel dan Amerika memiliki kepentingan di dalam hal ini,'' katanya.

Dani Haltus menegaskan,“Meski kami gembira dengan jatuhnya Mursi, namun yang terpenting dari itu adalah bagaimana militer Mesir akan lemah karena sibuk dengan kekuasaan politik selama jangka waktu mendatang.” 

Sumber: Republika Online

Dampak Konflik, Sembako Mesir Melambung

Bantuan sembako disiapkan tim ACT-PPMI di posko kemnusiaan Konsulat Jenderal RI di Nasr City
Bantuan sembako disiapkan tim ACT-PPMI di posko kemnusiaan Konsulat Jenderal RI di Nasr City

BERITA TERKINI, KAIRO -- Harga sembako mulai melambung di Mesir sepekan setelah diberlakukannya Undang-Undang Darurat. Warga Negara Indonesia (WNI) yang berprofesi sebagai pelajar mulai merasakan dampaknya.

Henda, salah seorang mahasiswa Al-Azhar, Kairo bersama istrinya mulai merasa seperti berada dalam penjara yang luas. Situasi aman tapi tak bisa bebas bepergian kemana-mana. Jika malam menjelang, panser sudah mulai memadati jalan-jalan protokol.

Ia menuturkan, beberapa bulan yang lalu ramai mahasiswa lalu lalang ke tempat studi. Kali ini sebagian besar berdiam diri di rumah. "Yang paling kentara itu harga sembako. Beras rata-rata naik tujuh Pound setiap 5 kg, telur naik enam Pound setiap satu kerat isi 30 butir dan harga buah-buahan naik signifikan," ujar Henda.

Kenaikan harga barang terjadi karena terhentinya aktivitas ekonomi saat jam malam diberlakukan. Kendaraan pengangkut hasil pertanian dari desa-desa ke pusat kota tak bisa beroperasi di malam hari.
Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) SOS–Egypt mengunjungi sejumlah pusat perbelanjaan kebutuhan pokok di sekitar Sapta, Nasr City. Sejumlah harga barang naik dan persediaanya pun terbatas. Pembelian dalam jumlah besar baru bisa dipenuhi 2-3 hari.

Meski begitu Posko kemanusiaan ACT-PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) di Nasr City mulai hari ini akan beroperasi. Sejumlah sembako disiapkan untuk WNI yang memerlukan suplai kebutuhan pokok.

Sumber: Republika Online

Mubarak Di Bebaskan, Revolusi Mesir Dinilai Gagal

Former Egyptian president Hosni Mubarak (center) sits with his sons Gamal (left) and Alaa (right) inside a cage in a courtroom at the police academy in Cairo April 13, 2013.
Former Egyptian president Hosni Mubarak (center) sits with his sons Gamal (left) and Alaa (right) inside a cage in a courtroom at the police academy in Cairo April 13, 2013.

BERITA TERKINI, KAIRO -- Beberapa warga Mesir yang ditemui Washingtonpost mengungkapkan, akan mengajukan banding terhadap pemberitaan bebasnya mantan Presiden Mesir Husni Mubarak. Warga yang ikut dalam revolusi 25 Januari 2011 tersebut pun kecewa atas pembebasan ini.

"Ini akhir dari revolusi 25 Januari,"ujar Walid Ibrahim (29 tahun) seorang penjaga toko buku di Kairo yang turut serta menjadi peserta demonstrasi pada dua tahun lalu.  "Karena revolusi 25 Januari adalah melawan rezim Mubarak. Masalahnya, revolusi 25 Januari tidak mendongkel rezim, hanya kepalanya."

Kolega Walid, Mahmud Muhammad (31 tahun) berteriak,"Kami sudah bangun dan sekarang, kami harus kembali ke masa tiga tahun silam,"ujarnya. Seorang pekerja lain menambahkan,"Dia (Mubarak) diadili dengan sistem pengadilannya sendiri."

Seorang pegawai di Kementerian Informasi Mesir Adel Sayed Ahmed menjelaskan, Mubarak memiliki banyak pendukung. Menurutnya, Partai Nasional Demokrat masih ada dan kian bertumbuh sejak kejatuhan Presiden Muhammad Mursi.

"Kebebasan Mubarak akan menjadi kegagalan dari sistem hukum. Seperti kegagalan sistem keamanan untuk melindungi demonstrasi yang damai ujarnya kepada Aljazeera.


Akan tetapi, Warga Mesir lain yang telah mendukung kudeta 3 Juli oleh militer terhadap Presiden Muhammad Mursi, mengatakan, mereka masih fokus terhadap krisis politik yang sedang terjadi ketimbang untuk kesal dengan pembebasan Mubarak.

Dengan situasi politik yang semakin terbelah sejak 2011 lalu, beberapa warga bahkan menginginkan kembalinya rezim Mubarak yang memperlakukan kekuatan oposisi dengan represif. Praktik korupsi yang terjadi pada pemerintahannya dan berbagai penyimpangan lain sudah terhapus di memori sebagian warga Mesir.

"Di bawah Mubarak, kami memiliki keamanan. Kami merasa aman dengan istri, anak kami bisa berjalan bebas yang sekarang tak lagi kami rasakan,"ujar Muhammad al Laban, seorang sopir yang sedang duduk-duduk dengan kawannya di salah satu kafe di sudut Kairo, kepada Washingtonpost.

Sumber: Republika Online

Tuesday, August 20, 2013

AS: Penangkapan Pemimpin IM Langgar Hukum

Pimpinan tertinggi Ikhwanul Muslimin Mohamed Badie
Pimpinan tertinggi Ikhwanul Muslimin Mohamed Badie

BERITA TERKINI, WASHINGTON---Amerika Serikat pada Selasa mengecam penangkapan pemimpin tertinggi/Mursyid Ikhwanul Muslimin Mohammad Badie di Mesir. Gedung Putih mengatakan penangkapan itu bertolak belakang dengan komentar-komentar militer untuk mendorong suatu "proses politik inklusif."

Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest menyatakan penangkapan itu merupakan "yang paling akhir dalam serangkaian tindakan pemerintah Mesir telah lakukan yang tak mencerminkan komitmen mereka pada suatu proses politik inklusif." "Tentunya ini satu tindakan yang bertolak belakang dengan sistem hukum yang tersekat dari politik," kata dia.

Badie, yang ditangkap Selasa pagi, akan ditahan selama 15 hari atas tuduhan telah menyulut pembunuhan para pengunjuk rasa, televisi negara Mesir melaporkan. Penangkapan pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin itu membuat krisis keamanan di Negeri Piramida ini semakin tidak menentu dan mendorong warga Mesir untuk memborong kebutuhan pokok (sembako).

Sumber: Republika Online

Monday, August 19, 2013

Menlu Mesir: Keamanan Nasional Prioritas Utama Kami

Barisan jenazah para pengunjuk rasa yang tewas ditembak aparat militer diletakkan di masjid al-Fath dekat Ramses Square, Kairo, Mesir, Jumat (16/8).
Barisan jenazah para pengunjuk rasa yang tewas ditembak aparat militer diletakkan di masjid al-Fath dekat Ramses Square, Kairo, Mesir, Jumat (16/8).

BERITA TERKINI, KHARTOUM -- Mesir berada di "jalan benar", kata Menteri Luar Negeri Nabil Fahmy Senin di Sudan dalam lawatan pertamanya ke luar negeri setelah ratusan orang meninggal dalam bentrokan-bentrokan mematikan antara pendukung presiden terguling Mohammad Moursi dan pasukan keamanan.

"Ya krisis terjadi tetapi kami berada di jalan benar dan saya yakin dengan masa depan," kata Fahmy setelah pembicaraan dengan rekan sejawatnya dari Sudan, Ali Karti. 
 
Menurut dia, Mesir akan mendorong "peta jalannya", satu rencana yang dirancang tentara untuk menyelenggarakan pemilihan pada 2014. 
 
"Prioritas utama kami ialah keamanan nasional Mesir," kata Menlu itu. "Sistem politik Mesir mendatang akan demokratis, terbuka dan terbuka bagi semua sesuai dengan undang-undang konstitusi yang akan ditulis segera." 
 
Namun, Fahmy memperingatkan siapa saja yang melakukan kekerasan akan diperlakukan berdasarkan hukum yang berlaku dan akan diisolasi dari masa depan Mesir. 
 
Fahmy, mantan duta besar Mesir untuk Washington, diambil sumpahnya sebagai bagian dari pemerintahan sementara setelah militer Mesir menggulingkan Presiden Moursi pada 3 Juli lalu. 
 
Penggulingan Moursi, mantan pemimpin Ikhwanul Muslimin yang menjadi presiden pertama Mesir melalui pemilihan demokratis, menyusul protes-protes yang menyerukan pengunduran dirinya. 
 
Berdasarkan data pemerintah Mesir hampir 800 orang telah meninggal di Mesir sejak Rabu lalu ketika pasukan keamanan membubarkan dua perkemahan para pendukung Moursi di Kairo. Tindakan pasukan keamanan Mesir mengundang kecaman internasional termasuk dari Sudan yang pemerintahan menyebut dirinya berdasarkan Islam. 
 
Namun, kubu Ikhwanul Muslimin menyebut ada ribuan pendukung Mursi yang dibantai oleh militer dan polisi Mesir. 
 
Panglima militer Mesir Jenderal Abdel Fattah al-Sisi berjanji akan menindak "dengan kekuatan" terhadap serangan-serangan lebih lanjut atas polisi dan bangunan-bangunan pemerintah. 
 
Serangan-serangan seperti itu, kata Fahmy, dibenarkan karena ada rencana akan menyebarkan ketakutan di antara warga Mesir dan akan mengguncang Mesir. 
 
"Kami tak akan membiarkan siapapun membuat orang-orang Mesir takut," kata dia.
Fahmy mengatakan rezimnya ingin mengklarifikasi situasi kepada para tetangganya "khususnya Sudan". 
 
"Kami datang ke sini dengan pesan politik jelas: Kami ingin bekerja sama untuk kepentingan negara-negara itu."
 
Sumber: Republika Online

Sunday, August 18, 2013

Kondisi Darurat, Bung Karno "Hadir" Lunakkan Tentara Mesir

Seorang tentara Mesir berjaga dengan kendaraan lapis baja dekat lapangan Nahda, tempat para pendukung Presiden Muhammad Mursi berkemah di sekitar Universitas Kairo, Giza
Seorang tentara Mesir berjaga dengan kendaraan lapis baja dekat lapangan Nahda, tempat para pendukung Presiden Muhammad Mursi berkemah di sekitar Universitas Kairo, Giza

BERITA TERKINI, Oleh Munawar Saman Makyanie/Wartawan Antara

Pemberlakuan undang-undang negara dalam keadaan darurat dan penetapan jam malam atau larangan keluar rumah di waktu malam dari pukul 19.00-6.00 selama sebulan sejak Rabu (14/8), memungkinkan tentara memiliki wewenang menangkap siapa saja yang dicurigai "melanggar hukum".

Tapi sebagian kalangan tentara yang hanya dicekoki ilmu perang di medan pertempuran, ternyata buta tentang mana orang yang melanggar hukum dan mana yang tidak.

Kecerobohan tentara Mesir itu terlihat ketika menahan ANTARA selama sekitar tiga jam saat meliput pegelaran tank tempur di Jalan Salah Salim, jalan utama yang menghubungkan Bandara Internasional dan pusat kota Kairo, pada Jumat (16/8) silam.

ANTARA ketika itu hendak shalat Jumat di Masjid Al Azhar di Distrik Hussein dan sedianya berencana akan meliput aksi unjuk rasa pendukung presiden terguling Mohamed Moursi di Bundaran Ramses, pusat kota Kairo.

Ketika melintas di Jalan Salah Salim, ada peristiwa menarik untuk diliput, dan ANTARA pun mengambil gambar barisan tank tempur tersebut setelah minta izin kepada seorang tentara di sekitanya, dan dipersilahkan.

Baru beberapa kali menjepret, seorang tentara yang agak senior berteriak dari jauh, "mamnu' tashwir" (dilarang motret) sambil berlari ke arah ANTARA.
Dia sempat membentak tentara yang mengizinkan ANTARA untuk memotret, dan tanpa bertanya, dia langsung dengan paksa menarik tangan ANTARA dan dimasukkan ke mobil patroli.

Padahal ANTARA sudah berteriak-teriak, "Saya wartawan, saya wartawan", tapi tentara berseragam loreng padang pasir itu tidak peduli teriakan tersebut, dan tetap saja menarik tangan ANTARA dengan kasarnya.

Di dalam mobil patroli militer, sudah ada empat warga asing berkulit putih, sepasang laki-wanita berkulit hitam, dan seorang pria berwajah Arab, terkena razia tentara.
ANTARA sempat bertanya kepada para warga asing itu, apakah mereka juga wartawan, namun seorang wanita bule yang duduk di samping ANTARA menjawab bahwa dia dan tiga temannya adalah turis, ditahan atas tuduhan melanggar jam malam.

Ketika ANTARA bertanya lebih lanjut, mereka dari negara mana saja, seorang tentara pengawal tiba-tiba membentak, "uskut!" (diam), dan semua mata para warga asing itu memandang ke ANTARA.

Dengan spontan ANTARA berteriak balik ke arah sang pengawal, "Saya wartawan Indonesia. Ini kartu pers saya," sambil memperlihatkan dua kartu pers yang bergantung di leher.

Dua kartu pers tersebut, masing-masing adalah dari Press Center Kementerian Penerangan Mesir, dan satunya lagi kartu pers dari Istana Presiden Mesir.

Menanggapi teriakan ANTARA, si tentara pengawal yang duduk di kursi mobil paling belakang dengan berpegang senjata siap tembak itu tidak mau tau, dan tanpa bicara dia hanya memelototkan matanya ke arah ANTARA.

Sesaat kemudian, ANTARA mengambil telepon genggam dari saku rompi untuk menghubungi Bapak Atase Pertahanan (Athan) KBRI Kairo.

Celakanya, di daftar telepon genggam, ada dua nama Athan, Kolonel R. Teguh Isgunanto, dan Kolonel Ipung Purwadi.

Untuk konfirmasi yang mana Athan aktif, ANTARA segera menelepon Staf Athan, Mukhlis Kaspul Anwar, dijawabnya bahwa Pak Ipung adalah Athan baru, pengganti Athan Teguh yang sudah kembali ke Indonesia.

"Saya wartawan ANTARA, Munawar Makyanie, ditahan tentara di Jalan Salah Salim," kata ANTARA kepada Pak Athan Ipung.

Dari seberang, terdengar sayup-sayup sampai suara Pak Ipung bertanya-tanya, "Ini siapa, ini siapa?". Sebelum ANTARA menjawab pertanyaan Pak Ipung, HP sudah dirampas, begitu pula kamera.

"Waduh, celaka duabelas ini, fisik dan nyawa saya bisa hilang tanpa jejak," begitu terlintas di fikiran ANTARA.

Suasana semakin menyeramkan karena menjelang mobil patroli tentara yang mengangkut kami warga asing itu hendak bergerak ke arah entah kemana, mata dan wajah kami ditutup dengan kain hitam.

Sekitar satu jam perjalanan, kami diturunkan di suatu tempat, dan secara terpisah di ruang berbeda, kami diinterogasi oleh petugas.
KBRI Bergerak cepat

Ketika petugas secara paksa merampas HP saat menghubungi Athan Ipung, ANTARA sempat mencoba melawan dan berteriak-teriak panik ke arah petugas, "Ini saya sedang berbicara dengan Duta Besar Republik Indonesia".

Namun, lagi-lagi tentara pongah itu tak mau tau, "Mafisy kalam, uskut!" (Tidak boleh ngomong, diam), bentaknya dengan mata melotot lebih seram, dan kumis tebalnya terlihat bergelombang bagai dihantam tsunami.

Fikiran ini kacau balau dan panik karena saat berbicara telepon dengan Pak Athan Ipung tadi, kayaknya nomor HP ANTARA belum tercatat di HP Pak Athan, sehingga beliau bingung juga, siapa itu Munawar Makyanie.

Untungnya, Pak Ipung bergerak cepat untuk melacak nomor telpon tersebut melalui berbagai pihak.

Belakangan, Staf Athan, Iman Hilmanuddin, kepada ANTARA menceritakan bahwa setelah Pak Ipung mendapat telpon dari ANTARA, beliau mula-mula melacaknya melalui dirinya (Iman Hilamanuddin).

Iman Hilmanuddin juga sempat bingung tentang siapa milik HP tersebut, dan selanjutnya berusaha melacak lagi melalui Staf Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial Budaya KBRI Kairo, Amir Syarifuddin, dan diketahui bahwa itu adalah nomor HP wartawan ANTARA di Kairo.

Setelah mengetahui bahwa itu nomor HP ANTARA, Iman pun sengaja mengirim pesan singkat berbahasa Arab ke HP ANTARA atas nama Atase Partahanan, dengan harapan petugas dapat membaca dan memakluminya.

Pesan singkat berbahasa Arab itu isinya, "Apakah ini Munawar Makyanie, apa kabarnya? Saya adalah Atase Pertahanan KBRI Kairo."

Bung Karno "hadir"
Sebelum diinterogasi, seorang petugas beruban -- tampaknya pejabat senior -- meminta identitas diri, dan ANTARA pun menyerahkan semua dokumen identitas berupa paspor, kartu pers, STNK, SIM Mesir, dan kartu Cairo Sporting Club.

Saat membuka paspor ANTARA, petugas tersebut spontan berucap, "Oh dari Indonesia ya, Soekarno, 'anaa uhibbu Soekarno' (saya cinta Soekarno)," sambil senyum takzim dan menunjukkan kedua jempol tangannya, dan dia pun keluar dari ruangan interogasi.

Seorang pria berpakaian sipil berwajah angker mulai menginterogasi ANTARA dengan beragam pertanyaan memojokkan.

Di ruangan itu cukup sempit, hanya ada dua kursi berhadapan ditengahi sebuah meja kecil, dan sebuah lemari kusam di dekat jendela terbuka berpagar besi.

Di atas lemari dipenuhi sebundel kertas berdebu. Sesekali tampak dua ekor tikus menari-nari berkejaran di sela-sela tumpukan kertas di atas lemari.

Di ruang sebelah, kerap terdengar suara bentakan keras oleh petugas berbahasa Arab.

Di tengah interogasi, tiba-tiba datang seorang petugas berbeda lagi, berpakaian rapi dengan senyum ramah, meminta ANTARA untuk ke ruang tamu.

"Mohon maaf, ini hanya salah pengertian saja. Bapak Munawar Saman Makyanie boleh kembali ke rumah", kata pria berdasi itu sambil menyerahkan kembali telpon genggam, dan semua dokumen identitas, serta kamera, tapi memory card kamera sudah dicopot.

ANTARA pun diantar kembali ke tempat semula ditahan, yaitu Jalan Salah Salim, dalam posisi mata dan wajah kembali ditutup dengan kain hitam.

Selama perjalanan pulang dalam mobil patroli tersebut, ada dua hal terlintas di fikiran ini, yaitu anak-istri dan Toyota Corolla -- mobil sedan pribadi kesayangan yang saya parkir di sisi Jalan Salah Salim, dengan kuci stang buatan Indonesia.

Maklum saja, banyak kerangka mobil rusak terbakar berserakan di pinggir jalan di mana-mana akibat bentrokan.

Sesampai di Jalan Salah Salim, petugas membuka penutup kain hitam dari wajah dan turun dari mobil patroli dengan lega bercampur kacau fikiran.

Alhamduillah mobil pribadi warna metalik itu masih utuh, menanti dengan anggunnya.

Begitu masuk dalam mobil pribadi, istri tercinta menelpon dari Indonesia, "Papa, hati mama tidak tenang di rumah sakit, selalu ingat papa di depan pasien," kata istri, Widiawati Kurnia, yang sedang bertugas sebagai dokter spesialis kandungan di Rumah Sakit Sari Asih Sangeang, Tangerang.

Mendengar suara istri di telpon bergitu, jantung ini terasa bergetar kencang, air mata mengucur di pipi, suara tidak bisa keluar dari mulut, dan langsung saya matikan telepon.

Sesaat kemudian setelah panasin mobil sebentar, saya kirim pesan singkat bbm kepada istri, tanpa kata-kata, hanya berupa gambar setir mobil, pertanda sedang berkendara di jalan.

Antara pun sampai di rumah dengan selamat berkat "kehadiran" Bung Karno.

Proklamator Kemerdekaan RI itu memang cukup disegani rakyat Mesir hingga sekarang yang dikenal sebagai sejawat paling akrab Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, pahlawan legendaris Arab.

Sumber: Republika Online

Polisi Mesir Tembak Mati 36 Tahanan IM

Penjara Abu Zaabal
Penjara Abu Zaabal

BERITA TERKINI, KAIRO -- Setidaknya 36 tahanan dari Ikhwanul Muslimin tewas saat diduga akan melarikan diri dari konvoi penjara. Aljazeera melaporkan, puluhan pria tersebut terbunuh setelah menyandera seorang polisi saat dipindahkan ke Penjara Abu Zaabal, dekat Kairo pada Ahad (18/8) waktu setempat. 

Dalam konvoi tersebut, sumber Aljazeera melaporkan, terdapat 600 tahanan. Menurut Aljazeera, ada beberapa informasi yang masih simpang siur mengenai bagaimana mereka tewas. 

Kantor berita pemerintah MENA menyatakan, sebuah mobil van membawa para tahanan untuk berhenti sebelum penembakan. Kemudian, mobil tersebut diserang oleh pria bersenjata. Para tahanan pun langsung menyandera seorang polisi untuk kabur akan tetapi tewas setelah ditembak.

Sumber Aljazeera melaporkan, para tahanan berkelahi kemudian menyandera seorang polisi saat van tersebut menepi. Polisi lain langsung menembaki van kemudian membunuh tahanan yang ada di dalam. 

Para tahanan tersebut ditahan usai bentrok antar polisi dengan pendukung Presiden terguling Muhammad Mursi di Masjid Al Fath, Kairo, Sabtu (17/8). Lebih dari 200 orang ditahan dengan berbagai tuduhan termasuk terorisme. 

Sementara itu, Aliansi Anti Kudeta menyatakan, memiliki bukti adanya pembunuhan terhadap 38 tahanan anti kudeta di sebuah truk yang memindahkan mereka ke Penjara Abu Zaabal. 
"Mereka dilaporkan terbunuh di dalam truk usai ditembak dengan peluru tajam dan gas air mata yang dilemparkan lewat jendela."

Sumber: Republika Online

Friday, August 16, 2013

Militer Mesir Gunakan Senjata Israel Tembaki Demonstran

 Demonstran yang mengalami luka dilarikan ke rumah sakit darurat di dekat Masjid Rabaa Adawiya, Cairo, Mesir, Rabu (14/8).
Demonstran yang mengalami luka dilarikan ke rumah sakit darurat di dekat Masjid Rabaa Adawiya, Cairo, Mesir, Rabu (14/8).

BERITA TERKINI, KAIRO -- Senjata Israel kemungkinan digunakan untuk membubarkan aksi demonstrasi pendukung presiden terguling Mesir, Muhammad Mursi, Rabu (14/8) lalu.

Pesawat kargo Israel terlihat mendarat di bandara Kairo Internasional pada hari ketika aparat keamanan Mesir melakukan pembubaran paksa terhadap demonstran yang melakukan aksi duduk bersama mendukung Mursi.

Dany Novery, koresponden Mi’raj News Agency di Kairo, mengonfirmasi hal tersebut. Dia mengatakan kemungkinan senjata Israel telah masuk pada Rabu kemarin.

''Sebab, senjata-senjata yang menyerang demonstran seperti gas air mata, kaleng gas, peluru, bertuliskan bahasa ibrani,'' kata Novery seperti dikutip MINA.

Sementara kontributor Mi’raj News Agency di Kairo, Amran Hamdani, menyebutkan laporan media lokal menyaksikan pesawat kargo Israel nampaknya membawa amunisi dan kemungkinan persenjataan yang diklaim sebagai bantuan untuk militer Mesir.

Saksi mata melaporkan ada ambulans yang datang ke Rab’ah Adawiyah membawa penuh amunisi untuk para militer. Hal itu dilihatnya setelah sopir ambulans menolak membawa korban meninggal yang dimintanya.
''Dia (saksi mata) melihat di dalam mobil itu penuh dengan amunisi yang kemungkinan datang bersamaan dengan pesawat kargo Israel,'' kata Hamdani.

Sumber: Republika Online

Thursday, August 15, 2013

Masjid di Kairo Berubah Jadi Kamar Mayat

Jasad demonstran pendukung presiden terguling Mesir, Muhammad Mursi, diletakkan di lantai di rumah sakit darurat di dekat Masjid Rabaa Adawiya, Kairo, Rabu (14/8).
Jasad demonstran pendukung presiden terguling Mesir, Muhammad Mursi, diletakkan di lantai di rumah sakit darurat di dekat Masjid Rabaa Adawiya, Kairo, Rabu (14/8).

BERITA TERKINI, KAIRO -- Biasanya masjid-masjid di Kairo dipenuhi jamaah yang berjajar membentuk shaf untuk shalat. Namun, setelah pertumpahan darah yang terjadi pada Rabu (15/8), mayat pendukung Muhammad Mursi yang justru berjajar di masjid.

Dalam laporan Al-Jazeera, Kamis (15/8) waktu setempat, bau mayat tercium dari dalam masjid. Di Nasr city, Masjid al-Iman berubah menjadi kamar mayat setelah kekerasan yang menewaskan sedikitnya 525 orang.

Mayat dibungkus dengan kain kafan dan balok es ditempatkan di sekitarnya. Sebagian mayat tersebut memiliki luka tembak. Tapi, sejumlah mayat lain hangus terbakar dan membuat anggota keluarga sulit mengidentifikasi.

Warga Kairo, Samr Badredeen, datang ke masjid Al Iman untuk memakamkan anggota keluarganya. Namun, dia sulit untuk mengenali mayat yang hangus terbakar.
 
"Mereka membunuh suami saya dan mereka membakar tubuhnya. Saya tidak dapat menemukannya," ujar Badredeen.

Dia mengatakan suaminya tidak memiliki senjata. Suaminya, Aymen Mohamed Zakayadeen (45), merupakan teknisi listrik dan ayah dari empat orang anak yang berusia 5-12 tahun.

Beberapa orang yang ikut dalam demonstrasi menuliskan namanya di tangan mereka. Sehingga jika serangan terjadi, mayat mereka bisa diidentifikasi.

Nama-nama mereka ditulis di papan. Mayat-mayat itu menunggu untuk dikubur.
Warga Mesir lainnya, Marwan Saber, terpisah dari saudaranya, Omar, saat kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan terjadi. Saber menemukan Omar yang seorang teknisi tertembak di dadanya di dalam kemah.

"Dia terjebak di dalam ambulans. Polisi tidak membiarkan ambulans meninggalkan Rabaa," ujarnya.
Meski banyak korban berjatuhan, pihak pasukan keamanan membantah tindakannya sebagai pembantaian. Ahli keamanan strategis, Mokhtar Qandil, mengatakan tindakan pasukan keamanan legal.

"Polisi terus mengatakan kepada mereka untuk pergi... kamu aman, kamu bebas, tapi mereka tetap tinggal, mengapa? untuk Mursi? Mursi gagal," ujar Qandil.

Bahkan, Qandil menyebut polisi telah melakukan tugas dengan baik dan korban tewas yang sedikit. "Mereka sukses," ucapnya.

Sumber: Republika Online

Hamas: Hentikan Penumpahan Darah Rakyat Mesir

Aktivis Hamas Palestina.
Aktivis Hamas Palestina.

BERITA TERKINI, GAZA -- Gerakan Perlawanan Islam Hamas sangat mengecam tindakan otoritas Mesir yang menyerang para pengunjuk rasa damai di lapangan Nahdhah dan Rabiah Adawiyah dengan kekuatan militer.

Serangan yang berujung pada pembantaian mengerikan dan jatuhnya ribuah korban meninggal dan terluka dari kalangan rakyat Mesir.

Hamas kembali menegaskan dukungannya kepada hak rakyat Arab dalam kebebasan dan kehormatan. Hamas menyerukan agar dihentikan penumpahan darah rakyat Mesir.

''Kami sangat sedih atas tertumpahnya darah rakyat Mesir di dua lapangan di Kairo,'' sebut pernyataan Hamas seperti dikutip PIP.

Hamas menegaskan sikap mereka yang mendukung rakyat Arab dan Islam serta haknya dalam kebebasan dan kehormatan serta hidup dengan mulia.

Mereka menyerukan agar dihentikan penumpahan darah rakyat Mesir dan menahan diri dari menggunakan kekuatan dan kekerasan dalam mengatasi para pengunjuk rasa damai.

Sumber: Republika Online

Ikhwanul Muslimin Seru Masa Lakukan "Pawai Jutaan Kemarahan"

 Sejumlah perempuan Mesir bergabung dengan aksi unjuk rasa menolak kudeta dan mendukung Presiden Mursi di luar Masjid Rabiah Al Adawiyah, Nasr City, Kairo, Rabu (31/7).   (AP / Khalil Hamra)
Sejumlah perempuan Mesir bergabung dengan aksi unjuk rasa menolak kudeta dan mendukung Presiden Mursi di luar Masjid Rabiah Al Adawiyah, Nasr City, Kairo, Rabu (31/7). (AP / Khalil Hamra)

BERITA TERKINI, KAIRO -- Ikhwanul Muslimin Mesir menyerukan apa yang disebut "pawai jutaan kemarahan" secara nasional setelah shalat Jumat untuk memprotes penumpasan kekerasan pasukan keamanan baru-baru ini terhadap para demonstran di mana ratusan orang tewas.

"Meskipun rasa sakit dan kesedihan karena kehilangan para syuhada kami, kejahatan pembuat kudeta terbaru telah meningkatkan tekad kami untuk mengakhiri mereka," kata kelompok Islam itu dalam satu pernyataan pada Jumat.

Lebih dari 500 pendukung Ikhwanul Muslimin tewas dalam kekerasan itu. Kelompok Islam menuduh militer menggelar kudeta ketika mereka menggulingkan pemimpinnya, Presiden terpilih Mohamed Moursi bulan lalu. Para aktivis liberal dan pemuda yang mendukung militer melihat gerakan itu sebagai respon positif terhadap tuntutan rakyat.

Sumber: Republika Online

Qardhawi: Umat Islam Dunia Harus Kecam Pembantaian Mesir

Dr Yusuf Al Qardhawi
Dr Yusuf Al Qardhawi

BERITA TERKINI,  DOHA -- Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional, Prof. Dr. Syaikh Yusuf Qardhawi, melalui pernyataan resminya menyerukan dunia Islam agar Jumat ini (16/8) secara bersama-sama turun ke jalan mengecam kekerasan militer Mesir.

Elbehira edisi Kamis (15/8) melaporkan ulama berpengaruh di dunia, Syaikh Qardhawi, juga menyerukan agar Jumat ini dijadikan sebagai hari perlawanan umat Islam dunia kepada kekejaman militer Mesir pimpinan Abdul Fattah Al Sisi.

“Seluruh umat Islam di setiap negeri-negeri muslim agar turun ke jalan beserta anak dan keluarga mereka untuk berunjuk rasa damai mengecam tindak kekerasan tersebut,” ujar pernyataannya.

Qardhawi menyatakan sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam di negeri-negeri lainnya untuk melakukan aksi unjuk rasa menentang pembantaian itu.

Pada situs resminya, Mi'raj News Agency mengutip pernyataan Qardhawi yang menuntut organisasi hak asasi manusia dunia mengajukan kasus tersebut ke pengadilan internasional untuk mengadili mereka yang terlibat dalam pembunuhan orang tak bersalah dan serangan terhadap kebebasan dan martabat manusia.

“Ini kejahatan yang paling mengerikan dalam sejarah Mesir di mana pihak keamanan menyerbu aksi damai warga, mereka menembakkan peluru tajam dan gas air mata, penggunaan pesawat terbang yang membuang gas beracun ke tengah kerumunan warga,” katanya.

Padahal, menurutnya, aksi duduk dengan damai tersebut jelas-jelas dijamin oleh seluruh hukum dan konstitusi serta piagam hak asasi manusia, kebebasan dan norma-norma internasional.

“Militer Mesir telah melakukan pengkhianatan terhadap sumpah tugasnya yang akan taat dan setia menjaga keamanan negara dan melindungi warga sipil dari pertumpahan darah,” papar Syaikh Qardhawi.

Syaikh Qardhawi melalui institusinya telah lama menyerukan kepada pemerintah agar berhati-hati dalam menjaga kepentingan umum dan lebih mengedepankan dialog beradab sebagai cara untuk menyelesaikan krisis Mesir.

Persatuan Ulama Muslim Internasional juga menyeru kepada Liga Arab, Organisasi Kerjasama Islam, Uni Afrika, PBB, Dewan Keamanan PBB, dan organisasi internasional lainnya dan badan-badan hak asasi manusia, untuk bergerak cepat, dalam rangka untuk menghentikan pertumpahan darah dan pelanggaran hak sipil di Mesir. 

Sumber: Republika Online

Hadapi Demonstran, Militer Mesir Tembakkan Peluru Tajam

Militer Mesir
Militer Mesir

BERITA TERKINI, KAIRO -- Pemerintah Mesir yang didukung militer mengizinkan pasukan keamanan menggunakan peluru tajam untuk menghadapi demonstrasi pendukung presiden terguling Mesir, Muhammad Mursi, selanjutnya.

Hal ini membuat kekhawatiran pembantaian kembali terjadi di Mesir setelah Ikhwanul Muslimin menyerukan demonstrasi lanjutan Jumat (16/8) ini. Pada pembubaran dua kamp demonstrasi pendukung Mursi, pasukan keamanan dilaporkan menembaki demonstran dengan peluru tajam. Namun, sehari setelah tentara Mesir dan polisi 'membunuh' ratusan orang, pemerintah justru berjanji menggunakan semua kekuatan untuk menghadapi segala organisasi massa.

Pada Kamis pagi, pendukung Mursi membakar dua gedung pemerintahan lokal di Giza, kota di sepanjang sungai Nil dari Kairo yang merupakan tempat bagi banyak Piramida. Dalam laporan Washingtonpost, Jumat (16/8), pendukung Mursi dan militer menyerukan kembali ke jalan, sehingga hanya ada sedikit harapan untuk segera mengakhiri krisis Mesir.
Krisis Mesir mulai terjadi sejak 30 Juni ketika jutaan orang turun ke jalan untuk menggulingkan presiden yang terpilih secara demokratis untuk pertama kalinya. Ikhwanul Muslimin yang mendukung Mursi, menyerukan demonstrasi lanjutan setelah negara dinyatakan dalam keadaan darurat oleh pemerintahan sementara.

Sementara, Kementrian Kesehatan Mesir menyatakan 578 korban tewas dan lebih dari 4.200 orang terluka dalam bentrokan Rabu kemarin. Kekerasan terjadi ketika pasukan keamanan menggunakan bulldozer, gas airmata, dan senjata tembak untuk membersihkan dua kamp demonstrasi pro-Mursi. Rabu lalu disebut-sebut sebagai hari paling mematikan di Mesir sejak revolusi 2011 yang menumbangkan Husni Mubarak. 

Sumber: Republika Online

Wednesday, August 14, 2013

ElBaradei: Pemerintah Mesir Menyimpang Dari Tujuan

Mohamad ElBaradei
Mohamad ElBaradei

BERITA TERKINI, KAIRO -- Wakil Presiden Mesir Muhammad ElBaradei akhirnya memilih mundur. Ia menilai pemerintah memaksakan penggunaan kekuatan pasukan keamanan untuk membubarkan massa pendukung Muhammad Mursi, Rabu (14/8).

Padahal, menurutnya, cara-cara damai masih bisa dicapai untuk mengakhiri konfrontasi. "Seperti Anda ketahui, saya selalu melihat alternatif damai untuk menyelesaikan perselisihan... namun ternyata banyak hal sudah sampai sejauh ini," ujar ElBaradei dalam surat pengunduran diri yang dikutip Al-Jazeera.

Ia menjelaskan, menjadi bagian dari pemerintah sementara karena awalnya berharap orang-orang yang muncul pada 30 Juni bisa membawa negara mewujudkan tujuan revolusi. Namun, pemerintah telah menyimpang dari tujuan tersebut.

"Saya berharap munculnya orang-orang pada 30 Juni bisa membawa negara kembali normal... tapi yang terjadi telah menyimpang, membuat keadaan ini terpolarisasi dan perpecahan serius," ungkapnya.

Dia menilai sulit untuk menyandang tanggung jawab atas keputusan yang tidak disetujuinya. "Saya khawatir konsekuensinya, saya tidak bisa menanggung tanggung jawab untuk setetes darah di hadapan Allah, " tegasnya.

Sedikitnya 238 warga sipil tewas dalam kekerasan yang terjadi di Kairo saat pembubaran massa pendukung Mursi. Selain itu, 43 polisi tewas dalam kejadian itu. Jumlah korban tewas diperkirakan bertambah setelah Ikhwanul Muslimin mengatakan korban tewas bisa mencapai lebih dari dua ribu orang.

Sumber: Republika Online

Demonstran Pro Mursi Akan Bertahan Hingga Akhir

  Pendukung Presiden Muhammad Mursi melaksanakan Shalat Idul Fitri sampai keluar jalan raya di luar Masjid Rabaah al-Adawiya, Nasr City, Kairo, Kamis (8/8) (AP/Khalil Hamra)
Pendukung Presiden Muhammad Mursi melaksanakan Shalat Idul Fitri sampai keluar jalan raya di luar Masjid Rabaah al-Adawiya, Nasr City, Kairo, Kamis (8/8) (AP/Khalil Hamra)

BERITA TERKINI, KAIRO -- Asap membubung tinggi dari kamp yang selama ini dijadikan tempat menginap pendukung Mursi di Rabiah Aladawiyah dan Alun-Alun Nahda. Letupan tembakan terdengar di saat para demonstran hendak menghindari serangan petugas. Polisi pun mengerahkan buldoser untuk membersihkan tenda pengunjuk rasa. "Kondisi di dalam sangat parah, mereka menghancurkan tenda kami. Kami tidak bisa bernapas di dalam dan banyak orang yang dilarikan ke rumah sakit,” ujar Murad Ahmad, seorang saksi mata di dalam kamp, Rabu (14/8).

Karung-karung pasir yang ditaruh bersusun serta tumpukan batu di sekitar kamp tak menghalangi petugas untuk merangsek masuk ke kamp di Rabiah Aladawiyah, Kairo. Gambar televisi menayangkan bagaimana petugas keamanan menembak dari atas atap sementara gas air mata menyelimuti para demonstran. Pihak keamanan mengatakan, sniper hanya ditugaskan untuk menembakkan gas air mata. “Gas air mata jatuh dari langit seperti hujan. Tidak ada ambulans di sana. Mereka (aparat) menutup akses setiap masuk,” ujar Khaled Ahmad (20 tahun), demonstran yang juga seorang mahasiswa. “Banyak wanita dan anak kecil di dalam. Tuhan menolong mereka. Ini merupakan pengepungan, serangan militer kepada kamp protes sipil.”

Militer sejak dari awal ingin menutup akses masuk ke lokasi pengunjuk rasa. Dengan begitu aparat bisa meminimalisasi membesarnya jumlah demonstran. Koresponden Aljazirah melaporkan, setiap pintu masuk ke dalam wilayah unjuk rasa di Rabiah Aladawiyah ditutup. Hanya petugas medis dan aparat yang boleh ke dalam. Reuters mengabarkan, dia melihat sekitar 20 orang yang ditembak di bagian kaki oleh tentara karena hendak ikut berunjuk rasa. Para demonstran membalasnya dengan melemparkan batu dan bom petrol ke arah petugas.

Bagi pendukung presiden terguling Muhammad Mursi, memperjuangkan pemerintahan sah sebelumnya merupakan harga diri. Karena itu, mereka rela berdemonstrasi bahkan menginap lebih dari lima pekan untuk memperjuangkan kembali eksistensi Mursi. Sejak awal, para pendukung setia ini pun tidak takut akan serangan militer yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa mereka. "Kami tidak peduli dengan kematian," ujar Aza Galal, seorang ibu rumah tangga yang menginap di Rabiah Aladawiyah, pusat unjuk rasa pro Mursi, seperti dikutip the Guardian.

Galal memberikan kesaksiannya itu pada Senin (12/8), atau dua hari sebelum militer benar-benar membubarkan paksa para pengunjuk rasa. Dalam serangan Rabu, puluhan orang dikabarkan tewas, bahkan kelompok Ikhwanul Muslimin yang menjadi basis penduduk Mursi menyebut jumlah korban tewas hingga ratusan. "Kami percaya akan satu hal, ketika waktu untuk meninggal tiba, maka Anda tak akan bisa mengelaknya. Jadi, apakah Anda akan memilih mati sebagai seorang martir pemberani atau sebagai seorang pengecut? Itu intinya. Dan kami ingin meninggal sahid," ujarnya.

Galal, yang saat itu diwawancarai, melindungi hijabnya di bawah payung berwana pelangi. Sementara putranya, Saif, menarik-narik bajunya. Sejak akhir Juni, puluhan ribu pendukung presiden terguing Muhammad Mursi menginap di dua lokasi di ibu kota Mesir. Satu di Alun-Alun Nahda dekat Universitas Kairo, sebelah barat Sungai Nil, dan satu lagi di Rabiah Aladawiyah.

Pada awalnya mereka mendukung agar Mursi terus melanjutkan masa pemerintahannya. Namun, pascakudeta militer 3 Juli, isu perjuangan mereka berubah menjadi pemulihan kembali kedudukan Mursi. Ahmen Abu Ouf salah seorang pengunjuk rasa beberapa hari lalu mengakui aparat dapat menyerang kapan pun. Tapi, dia yakin, sangat tidak mungkin untuk membubarkan aksi duduk para demonstran. Petugas, kata dia, harus mengusir paksa ribuan orang. "Dan kami akan mempertahankan aksi kami dengan jiwa ini," ujarnya. 

Sumber: Republika Online